Jubir Ahok Dorong Politik Bermartabat dan Santun di Pilkada DKI Jakarta

Jakarta – Juru Bicara Tim Pemenangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Ansy Lema mendorong politik bermartabat dan santun pada Pilgub DKI Jakarta mendatang. Ansy mengimbau para pendukung calon harus mengedepankan politik cerdas, bukan membangun permusuhan atas dasar sentimen suku, agama, ras, antargolongan (SARA).

“Pilkada DKI Jakarta mestinya menjadi Pilkada yang bermartabat, sehingga bisa menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain di Indonesia, sekaligus mampu memberikan pesan pada dunia internasional bahwa demokrasi Indonesia sungguh tengah mekar dan pantas menjadi model pembangunan-penataan demokrasi bagi negara-negara demokrasi baru,” ujar Ansy di Jakarta, Rabu (31/8).

Ciri Pilkada bermartabat, kata Ansy adalah seluruh proses kontestasi elektoral berlangsung dalam suasana damai dan dengan mengedepankan etika dan logika dalam kompetisi. Menurutnya, persaingan politik boleh ketat, namun persaudaraan sebagai sesama anak bangsa harus terus dijaga.

“Rivalitas antarkandidat harus merupakan kompetisi ide dan gagasan perihal bagaimana membangun Jakarta lebih baik. Pilkada bermartabat pasti memuliakan adu konsep, adu otak untuk memajukan Jakarta, bukan adu otot, apalagi mengeksploitasi sentimen SARA untuk menyerang rival politik,” tandas dia.

Ansy menilai publik Jakarta adalah pemilih cerdas-rasional, well-informed, dan karenanya menghendaki kompetisi pilkada dipenuhi bertebarannya gagasan-gagasan brilian guna memajukan Jakarta. Dengan itu, kata dia pemilih bisa menimbang, memilah dan kemudian memilih figur kepala daerah ibu kota.

“Politisasi SARA jelas mencederai demokrasi dan mengancam integrasi bangsa yang dibangun di atas nilai-nilai kebhinekaan,” ungkap dia.

Lebih lanjut, dia mengatakan kandidat yang melakukan politisasi SARA, apalagi terjebak dalam kekerasan bernuansa SARA, dipastikan akan ditinggalkan para pemilih. Pemilih Jakarta adalah pemilih rasional, bukan pemilih emosional atau pemilih transaksional, sehingga tidak mempan dirayu dengan isu SARA dan iming-iming uang.

“Memainkan isu SARA dan politik uang (money politics) adalah politik rendahan, baru berkelas bila yang dijual adalah program kerja dan rekam jejak (track record) calon. Pemilih mengharapkan perdebatan programatik antar calon,” tukasnya.

Sebagai ibu kota negara, Jakarta, kata Ansy adalah miniatur Indonesia, tempat tinggal anak bangsa dari berbagai latar belakang kultur, etnik dan agama. Sebagai ibu kota negara, menurut dia, idealnya Jakarta menjadi rumah bersama bagi semua warganya yang berasal dari berbagai pelosok tanah air.

“Karena itu, Jakarta adalah milik semua anak bangsa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Jakarta tidak bisa diklaim sebagai milik satu kelompok atau golongan tertentu,” tuturnya.

Menurut dia, tanggung jawab bersama rakyat DKI Jakarta untuk menghadirkan Jakarta sebagai rumah bersama, hunian yang nyaman bagi semua anak bangsa. Bahkan menjadi rumah yang ramah bagi warga asing yang bermukim atau berkunjung ke Indonesia.

“Ada banyak Kantor Kedutaan Asing negara sahabat di Jakarta. Jakarta adalah juga beranda depan Republik, dan dengan menghadirkan Jakarta yang damai, dunia internasional akan memberikan penilaian positif bagi Indonesia,” pungkas dia.

Yustinus Paat/JAS

Nb/BeritaSatu.com

BAGIKAN