Situs Bekas Kerajaan Riau Memprihatinkan, Jadi Tempat Mojok Muda-mudi

–, Tanjungpinang – Situs benda cagar budaya dan bekas kerajaan Riau, Johor, Rahang dan Lingga yang pernah berjaya sekitar tahun 1673/1805 di Kota Tanjungpinang kondisi terlihat sangat memprihatinkan. Padahal tempat ini merupakan situs bersejarah tinggi dimana pada masa kejayaan, istana ini pernah menjadi pusat perdagangan sekitar abad ke 18.

Berdasarkan pantauan — dilokasi, berbagai fasilitas umum yang dibangun pemerintah, seperti genset, sumur, toilet serta beberapa gasebo nampak terbengkalai dan kumuh. Begitu pula dengan kain nisan yang membaluti makam raja-raja yang pernah berkuasa di kerajaan tersebut, terlihat usang dan sepertinya tidak pernah diganti.

Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang terkesan melakukan pembiaran terhadap situs bersejarah ini, karena tidak ada tanda-tanda perawatan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang dibidang budaya ini.

Kondisi ini tentunya menimbulkan komentar dari berbagai elemen masyarakat yang mengunjungi situs sejarah ini, salah satunya adalah kandar. Dia sangat menyayangkan kurangnya kepedulian dari Disparbud Kota Tanjungpinang dalam merawat bahkan mengembangkan objek wisata sejarah ini.

Padahal kalau tempat ini dikelola dengan baik dan menarik, sangat berpotensi mengenjot kunjungan wisatawan ke Tanjungpinang. Kondisi ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu.”Sungguh aneh dan memprihatinkan prihatin. Dulu situs ini begitu terawat, kain nisannyasering diganti sama penjaga makam, tapi sekarang penjaganya pun tak ada,”ujarnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Intan, pengunjung dari Kota Tanjungpinang. Dia meminta pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang untuk memperhatikan dan memperbaiki situs sejarah ini.”Dinas Pariwisata seharusnya lebih memperhatikan hal ini, jangan seperti melupakan sejarah. Padahal dana perawatannya hampir setiap tahun di anggarankan,”ujarnya lagi.

Informasi yang didapati dari pemuda sekitar area makam mengatakan bahwa tempat bersejarah ini sering dijadikan tempat mojok muda-mudi pada sore hingga malam hari.

Sementara itu belum berhasil mendapatkan jawaban dari Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Tanjungpinang, Juramadi. Ketika dikonfirmasi — melalui telepon selulernya, tidak menjawab. (Budi Arifin).

BAGIKAN